Translate

Pengaruh Jenis Pupuk Kandang Tarhadap Pertumbuhan dan Produksi Bayam (Amaranthus sp) dan Kangkung Darat (Ipomoea reptans)






BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

            Tanaman kangkung merupakan tanaman yang menetap yang dapat hidup lebih dari setahun. Tanaman yang diduga berasal dari kawasan asia dan afrika ini meliputi dua jenis yang biasa dibudidayakan petani yakni kangkung darat dan kangkung air. Kangkung darat memiliki ciri yaitu berdaun panjang dengan ujung runcing dan berwarna hijau keputih-putihan kangkung ini mudah dibedakan dengan kangkung air dari warna bunganya yang putih bersih. Kangkung darat umumnya dijual dalam bentuk cabutan tanaman bersama akarnya. Maka itu, dipasaran kangkung darat diistilahkan dengan kangkung cabut. Tanaman kangkung darat termasuk tanaman dikotil dan berakar tunggang. Akarnya menyebar kesegala arah dan dapat menembus tanah sampai kedalaman 50 cm lebi. Batang tanaman berbentuk bulat panjang beruas mirip batang bambu. Daun kangkung berwarna hijau tu dibagian atasnya. Tangkai daunnya panjang dan melekat pada setiap ruas batang. (Haryoto, 2009:10)
            Tanaman bayam yang biasa ditanaman sebagai sayuran dibedakan menjadi dua yaitu bayam cabut dan bayam tahun. Bayam cabut yang juga sering disebut bayam sepul adalah bayam yang diusahakan sebagai bayam cabutan. Bayam cabut dibedakan menjadi dua. Bayam cabut yang memiliki batang berwarna merah-kemerahan (bayam merah) dan bayam cabut yang memiliki batang berwarna hajau keputh-putihan(bayam putih).  (Rukmana, 2005:52)

1.2 Tujuan

            Budidaya tanaman bayam (Amaranthus Sp) dan kangkung darat (Ipomoea reptans) dilakukan untuk percobaan pegaruh jenis pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan produksi bayam (Amaranthus Sp) dan kangkung darat (Ipomoea reptans), yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pupuk kandang yang berasal dari kotoran ayam dan kotoran sapi terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman bayam (Amaranthus Sp) dan kangkung darat (Ipomoea reptans).


BAB II TINJAUAN PUSTAKA


            Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Kotoran ini mengandung unsur hara lengkap yang dibutuhkan tanaman. Pupuk kandang mengandung unsur hara makro dan mikro. Pupuk kandang padat banyak mengandung fosfor, sementara nitrogen dan kalium banyak diperoleh dari urine  ternak. Unsur hara yang terkandung dalam pupuk kandang diantaranya kalium, magnesium, belerang, natrium, besi, tembaga, dan molibdenum. Kandungan nitrogen dalam urine ternak tiga kali lebih besar dibandingkan dengan nitrogen dalam kotoran ternak. Sementara itu, kandungan kalium dalam urine lebih besar lima kali lipatnya. Dilihat dari komposisinya kandungan hara dalam kotoran ayam tiga kali lebih besar dari pada kandungan hara dalam kotoran mamalia. Selain itu, kotoran ayam memiliki kadar hara fosfor yang lebih tinggi dan lebih mudah terdekomposisi dari pada kotoran ternak lainya. Pupuk kandang dari kotoran sapi ini memiliki rasio C/N tinggi karena mengandung serat seperti selulosa. Karena itu pengaplikasian kotoran sapi segar secara langsung jarang dilakukan, karena penggunaan nitrogen oleh mikroba dalam dekomposisi kotoran akan bersaing dengan tanaman. Hal ini menyebabkan tanaman akan kekurangan unsur nitrogen.
            Penggunaan pupuk organik, terutama di lahan-lahan pertanian, dapat memberikan banyak keuntungan, diantaranya :
a.      Memperbaiki sifat kimia tanah.
b.      Memperbaiki sifat fisika tanah .
c.       Meningkatkan daya serap tanah terhadap air.
d.      Meningkatkan efektifitas mikroorganisme tanah.
e.       Sumber makanan bagi tanaman.
f.        Ramah lingkungan.
g.       Pupuk organik lebih murah.
h.       Meningkatkan kualitas produksi.

Selain memiliki keunggulam, pupuk organik pun memiliki keunggulan, diantaranya :
a.    Biaya pengangkutan lebih mahal
b.  Kecepatan penyerapan unsur hara oleh tanaman lebih lama dibanding penyerapan unsur hara dari pupuk anorganik
c.    Memiliki kandungan hara yang beragam dan sulit diketahui secara pasti jumlah haranya, harus melalui proses analisis.
d.     Kandungan unsur haranya berbeda-beda, tergantung pada jenis ternak, jenis makanan ternak, dan umur.
e.    Pupuk organik segar, penyebaran patogenya, penyebab penyakit lebih besar dari pada pupuk organik yang mengalami proses fermentasi.
( Pranata, 2010:67)
Dalam budidaya tanaman bayam (Amaranthus Sp) dan kangkung darat (Ipomoea reptans) menggunakan pupuk untuk pemenuhan unsur hara bagi tanaman. Nilai pupuk kandang tidak hanya ditentukan berdasarkan pasokan bahan organik tetapi besarnya pasokan nitrogen yang terkandung didalam pupuk. Nitrogen yang dilepaskan oleh aktifitas mikroorganisme kemudian dimanfaatkan oleh tanaman dalam bentuk nitrat.
Pupuk kandang mempumyai pengaruh yang baik terhadap sifat fisik dan kimia tanah. Penggunaan pupuk kandang untuk mempertahankan kesuburan tanah merupakan bentuk praktek pertanian organik. Penggunaan pupuk kandang yang dipadukan dengan pupuk kimia, kapur pertanian, dan tanaman legum serta didukung pengolah tanah yang baik pengendalian gulma dan praktek pertanian lain. (Sutanto, 2002:43)



BAB III METODOLOGI 

3.1 Alat

            Budidaya tanaman bayam ( Amaranthus Sp) dan tanaman kangkung darat ( Ipomoea reptans) untuk mengetahui pengaruh jenis pupuk kandang yang berasal dari kotoran ayam dan kotoran sapi terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman bayam (Amaranthus Sp) dan kangkung darat (Ipomoea reptans), menggunakan alat dalam berbudidayanya seperti cangkul, kored, tugal, meteran, ajir, ember, timbangan, dan gembor.

3.2 Bahan

            Budidaya tanaman bayam ( Amaranthus Sp) dan tanaman kangkung darat ( Ipomoea reptans) untuk mengetahui pengaruh jenis pupuk kandang yang berasal dari kotoran ayam dan kotoran sapi terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman bayam (Amaranthus Sp) dan kangkung darat (Ipomoea reptans),  menggunakan bahan dalam berbudidayanya seperti Benih Bayam  (Amaranthus Sp), benih kangkung ( Ipomoea reptans), pupuk kandang dari kotoran ayam, pupuk kandang dari kotoran sapi, kantong plastik dan tali raffia.

3.3 Metode

            Budidaya tanaman bayam dan kangkung merupakan budidaya tanaman yang menggunakan tahapan-tahapan  budidaya seperti pengolahan lahan, pembuatan bedengan, perapihan bedengan, pemupukan dengan pupuk kandang, penanaman, perawatan dan pengendalian hama penyakit , panen dan pasca panen. Sebelum melakukan pengolahan lahan, sebaiknya memilih lahan yang subur karena tanaman bayam dan kangkung darat adalah tanaman sayuran yang membutuhkan tanah yang memiliki tekstur tanah yang gembur. Adpun syarat tumbuh tanaman bayam yaitu :
1.        Tipe tanah                    : Lempung sampai lempung berpasir, gembur, subur, dan mengandung bahan organik. pH tanah optimum        : 6,0 – 6,5, Ketinggian tempat          : 100 – 1.000 m dpl
4.      Persyaratan lain            : Lokasi terbuka dan mendapatkan sinar matahari secara langsung dan drainase air lancar.

Syarat tumbuh tanaman kangkung darat yaitu :
1.    Tipe tanah                       : Lempung sampai lempung berpasir, gembur dan mengandung bahan organik.
2.      pH tanah optimum   : 5,5 – 6,5
3.      Ketinggian tempat               : 50 – 500 m dpl
4.      Persyaratan lain                   : Lokasi terbuka dan memperoleh sinar matahari langsung, masih bisa ditanam di tanah rawa yang drainasenya tidak lancar.
            Pengolahan lahan merupakan kegiatan menggemburkan tanah dan menghaluskan bongkahan tanah. Pengolahan lahan dapat dilakukan dengan alat berat seperti tractor, hand tractor maupun dengan cangkul. Dalam praktikum ini, pengolahan lahan budidaya tanaman bayam dan kangkung darat seluas 20 m2 dilakukan menggunakan alat cangkul dengan  kedalaman pencangkulan ± 30 cm. Tanah dicangkul untuk membalik dan memecah agregat tanah yaitu bagian tanah yang ada didalam diletakan diluar. Pembalikan ini dilakukan agar tanah terkena sinar matahari sehingga hama seperti ulat tanah mati karena terkena sinar matahari langsung. Tidak hanya, itu pembalikan tanah juga dapat menghilangkan residu didalam tanah dan memusnahkan penyakit yang ada ditanah. Membuat bedengan dengan panjang 20 m2, lebar 1 m2, tinggi bedengan 30 cm, dan lebar pari 30 cm.
            Pembuatan bedengan ini dilakukan dengan cara mencangkul tanah yang ada di sebelah kanan dan kiri calon bedengan kemudian tanah diangkat dan diletakkan diatas bedengan, dilakukan agar parit terbentuk dengan kedalaman yang sesuai yaitu 30 cm dan agar bedengan terbentuk rapi dengan ketinggian 30 cm. Tidak hanya itu, pembutan bedengan dan pembuatan parit dilakukan agar drainase air lancar sehingga tanaman tidak tergenang air. Tanah yang masih berupa bongkahan yang ada dibedengan dicacah agar tanah menjadi lebih halus dan gembur. Bedengan dibagi dua bagian yaitu bagian timur 10 m2 dan bagian barat 10 m2.
            Bendengan yang sudah siap dan sudah rapi diberi pupuk kandang dari kotoran ayam dan pupuk kandang dai kotoran sapi yitu : 10 m2 bedengan timur dan 10 m2 bedengan barat. Pemberian pupuk kandang dilakukan dengan cara menyebar rata pupuk kebedengan dan mencampur pupuk dengan tanah yang ada dibedengan dengan cangkul. Pemberian pupuk dilakukan dengan tujuan untuk menambah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman.
            Lahan yang sudah diberi pupuk siap untuk ditanami. Penanaman dilakukan dengan cara ditugal dengan jarak antar baris 15 cm, dalam barisan 5 cm dengan 2 butir benih disetiap lubangnya, kemudian benih ditutup kembali dengan tanah yang ada disekitar bedengan. Dan utuk tanaman bayam, benih dicampur pasir dengan perbandingan 1:10 kemudian disebar sebanyak 20 g/10 m2. Menanam benih bayam dibedengan yang diberi pupuk kandang dari kotoran ayam dan pupuk kandang dari kotoran sapi. Benih kangkung darat juga seperti itu, ditanaman dibedengan yang dipupuk kandang dari kotoran ayam dan pupuk kandang dari kotoran sapi. Jadi diperoleh : 5 m2 tanaman kangkung darat dibedengan timur bagian timur yang diberi pupuk kandang dari kotoran sapi, 5 m2 bayam dibedengan timur bagian barat yang diberi pupuk kandang dari kotoran ayam, 5 m2 tanaman kangkung darat dibedengan barat bagian timur yang diberi pupuk kandang dari kotoran sapi, 5 m2 tanaman bayam dibedengan barat bagian barat yang diberi pupuk kandang dari kotoran ayam.
            Tanaman bayam dan tanaman kangkung darat mulai tumbuh normal 2 MST, begitupun pada 2 MST tersebut gulma dan hama penyakit mulai menyerang tanaman sehingga pada saat inilah mulai dilakukn perawatan tanaman dengan pengendalian gulma, dan hama penyakit. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan cara menual atau pun dengan alat seperti kored. Gulma yang tumbuh didekat tanaman dapat dicabut langsung dengan tangan, karena apabila menggunakan koret tanaman bisa rusak yang disebabkan oleh jarak tanam yang berdekatan dan akar tanaman pun bisa rusak akibat terkena kored. Hama yang menyerang dapat dikendalikan dengan memungut langsung dan membunuhnya. Dalam praktikum ini tidak ada penyakit yang berbahaya menyerang tanaman.
            Pada minggu ketiga dilakukan pengamatan tanaman bayam dan tanaman kangkung yaitu tinggi tanaman dan jumlah daun. Pengamatan tanaman dilakukan dengan pengamatan 10 tanaman contoh. Memilih tanaman contoh tidak boleh memilih tanaman yang berada paling luar tetapi memilih tanaman yang berada ditenga-tengah populasi, dipilih secara acak dan tersebar.Tanaman bayam memiliki perkecambahan epigeal yaitu dicirikan dengan kotiledonnya ikut terangkat keatas permukaan tanah. Tanaman kangkung darat memiliki tipe perkecambahan hipogeal yaitu dicirikan dengan kotiledonnya tidak ikut terangkat keatas permukaan tanah. Karena bayam tipe perkecambahannya epigeal sehingga pengukuran tinggi tanamannya dari pangkal tanaman sampai titik tumbuh, sedangkan untuk tanaman kangkung darat yang memiliki tipe perkecambahan hipogeal pengukuran tinggi tanamannya dari pangkal tanaman sampai ujung daun tertinggi.
            Tanaman bayam  dan kangkung darat dapat dipanen pada minggu ke-6 atau pada umur 35 hari setelah tanama. Tanaman bayam dipanen dengan cara dicabut yang kemudian akar tanaman dicuci agar bersih dari tanah yang ikut terbawa akar pada saat pemanenan. Pemanenan tanaman bayam yang ditanaman dibedengan yang diberi pupuk kandang dari kotoran sapi dengan yang ditanam dibedengan yang diberi pupuk kandang dari kotoran ayam dipisahkan dan ditimbang berapa bobot masing-masing bayam dengan perlakuan yang berbeda tersebut dan berpa bobot tanaman yang layak jual maupun yang tidak layak jual. Untuk 10 contoh tanaman bayam, sebelum pemanenen dilakukn pengamatan tinggi tanaman dan jumlah daun. Setelah itu tanaman dipanen dan ditimbang berapa bobot setiap tanaman lalu dirata-ratakan, berapa jumlah daun setiap tanaman dan dirata-ratakan.  Begitu pun dengan tanaman kangkung darat, dipanen dengan cara dicabut yang kemudian akar tanaman dicuci agar bersih dari tanah yang ikut terbawa akar pada saat pemanenan. Pemanenan tanaman kangkung darat yang ditanaman dibedengan yang diberi pupuk kandang dari kotoran sapi dengan yang ditanam dibedengan yang diberi pupuk kandang dari kotoran ayam dipisahkan dan ditimbang berapa bobot masing-masing kangkung dengan perlakuan yang berbeda tersebut dan berapa bobot tanaman yang layak jual maupun tidak layak jual. Untuk 10 contoh tanaman kangkung darat, sebelum pemanenen dilakukn pengamatan tinggi tanaman dan jumlah daun. Setelah itu tanaman dipanen dan ditimbang berapa bobot setiap tanaman lalu dirata-ratakan, berapa jumlah daun setiap tanaman dan dirata-ratakan.
            Pasca panen tanaman bayam dan kangkung darat yaitu tanaman bayam dan kangkung darat dibersihkan dari tanah dan kotoran lainnya menggunakan air, kemudian mengikat batang tanman yang mau dipasarkan


BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

            Pengamatan tinggi tanaman dan jumlah daun pada tanaman bayam dan kangkung darat yang diberi pupuk kandang dari kotoran ayam dan kotoran sapi :
Pengamatan pada saat panen :
Hari/tanggal                              : Rabu 12 Oktober 2011
Perlakuan                                 : Pengaruh jenis pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan produksi bayam dan kangkung darat.














4.2 Pembahasan

            Hara dalam pupuk kandang berasal dari pakan yang dikonsumsi oleh ternak lebih dari 70% nitrogen yang dimakan oleh hewan dapat dilihat oleh kotoranya, demikian juga kalium sebesar 80 %. Diantara kotoran ternak, kotoran ayam mempunyai kandungan hara tertinggi ,terendah sapi, sedangkan kotoran babi berada diantaranya. (Sutanto, 2002:43 - 44)
            Praktikum budidaya bayam (Amaranthus Sp) dan tanaman kangkung darat (Ipomoea reptans) untuk mengetahui pengaruh pupuk kandang yang berasal dari kotoran ayam dan yang berasal dari kotoran sapi mendapatkan hasil bahwa, pupuk kandang dari kotoran ayam menghasilkan tanaman yang lebih bagus dengan bobot yang lebih berat terutama hasil ini dapat dirasakan pada tanaman bayam (Amaranthus Sp).


BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan

            Dari praktikum pengaruh jenis pupuk kandang didapatkan hasil bahwa lebih baik menggunakan pupuk kandang ayam karena hasil panen tanaman sayuran yang menggunakan pupuk kandang dari kotoran ayam  dapat mencapai produksi yang maksimum dan sehingga bentuk, ukuran, dan bobot hasil panen mampu brsaing dipasaran masyarakat.

5.2 Saran

Bagi para petani atau siapapun yang akan berbudidaya tanaman bayam dan tanaman kangkung sebaiknya memilih pupuk yang tepat untuk menambah unsur hara tanaman dan sebaiknya kurangi penggunaan bahan kimia karena dapat merusak ekosistem dan mahluk hidup di dalamnya. Gunakan pupuk kandang dari kotoran ayam karena pupuk tersebut kandungan haranya sangat tinggi dibandingkan dengan pupuk kandang dari kotoran sapi.



Kultur Jaringan Stroberi di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika


KULTUR JARINGAN STROBERI (Fragaria sp.) DI BALAI PENELITIAN TANAMAN JERUK DAN BUAH SUBTROPIKA BATU JAWA TIMUR
ABSTRAK
FAUZAN HIDAYATULLAH SEMENDAYA. Kultur Jaringan Stroberi (Fragaria sp.) di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Batu, Jawa Timur. Dibimbing oleh RIZKI FAUZIAH RAMADHAINI.
          Stroberi dapat diperbanyak dengan generatif dari biji dan vegetatif dari stolon dan kultur jaringan. Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika mengembangkan kultur jaringan tanaman subtropika. Tujuan dari Praktik Kerja Lapangan adalah untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman kultur jaringan stroberi, untuk mengidentifikasikan dan memberikan alternatif pemecahan di praktik kerja lapangan, dan untuk menjalin kerjasama antara perguruan tinggi dengan masyarakat. Kegiatan kultur jaringan dilakukan  mulai dari kultur meristem, multiplikasi, dan aklimatisasi. Kultur meristem bertujuan untuk memproduksi benih stroberi yang bebas virus. Zat pengatur tumbuh benzil amino purin (BAP) diaplikasikan pada multiplikasi stroberi. Hasil penelitian menunjukkan varietas Sweet Charli dan Holand lebih responsif terhadap BAP 1 ppm, dan varietas California lebih responsif pada BAP 0.5 ppm. Kemudian, planlet stroberi varietas Rosalinda diaklimatisasikan pada berbagai media tanam. Media terbaik untuk aklimatisasi adalah arang sekam.

Kata kunci: aklimatisasi, benzil amino purin, in-vitro, multiplikasi

ABSTRACT
FAUZAN HIDAYATULLAH SEMENDAYA. Strawberry In-Vitro Propagation (Fragaria sp.) In Indonesian Citrus and Subtropical Fruits Research Institute Batu, East Java. Supervised by RIZKI FAUZIAH RAMADHAINI.
            Strawberries could be propagated by generative from seed and vegetative from stolon and tissue culture. Indonesian Citrus and Subtropical Fruits Research Institute have been developing tissue cuture propagation for subtropical plants. The purpose of this internship was to gain knowledge, skills, and experience of strawberry tissue culture propagation, to identify solve problems occured in the internship and to establish cooperation between college and community. Strawberry tissue culture activities were conducted for meristematic culture, multiplication, and acclimatization. Meristematic culture aimeds to produce virus-free strawberry seedling. Growth regulators like benzyl amino purine (BAP) was applied on multiplication of strawberry seedling. The result showed Sweet Charlie and Holand varieties more responsive to BAP 1 ppm, and California varieties more responsive to BAP 0.5 ppm. Then, strawberry Rosalinda varieties planlet was acclimatizatied on several growing media. The best growing media for acclimatization was  husk charcoal.

Key words: acclimatization, benzyl amino purine, in-vitro, multiplication



Resep Mingguan (1) : Pindang Tempoyak Ikan Patin


RESEP  1
                                                  
                                               "PINDANG TEMPOYAK IKAN PATIN"
  • Tempoyak merupakan olahan khas dari fermentasi duriaan yang dapat langsung dimakan atau menjadi bumbu masakan.
  • Sedangkan pindang adalah masakan berkuah yang sangat khas Sumatra Selatan.
Jadi jika pindang di olah bersama tempoyak dan ikan patin => terciptalah masakan yang super lezat yaitu:

"..PINDANG TEMPOYAK IKAN PATIN.."

BAHAN :

    1 kg ikan patin
    2 btg serai
    3 lbr daun salam
    3 cm jahe
    3 cm lengkuas
    5 buah tomat merah
    3 buah tomat hijau
    5 buah cabai merah
    10 buah cabai rawit
    25 gr daun kemangi
    100 gr tempoyak
    1200 cc air
    Garam secukupnya
    Gula secukupnya


Persiapan Bahan-Bahan:
1. Ikan patin disiangi, dicuci bersih, dipotong-potong (ukuran sesuai selera), dilumuri dengan jeruk nipis secukupnya
2. Serai dan jahe dimemarkan
3. Tomat merah dan hijau di potong menjadi 4 potong
4. Cabai rawit diiris menjadi 2 bagian
5. cabai merah, bawang putih, dan bawang merah dihaluskan bersama


Cara Membuat:
1. Bumbu halus, daun salam, serai, jahe, lengkuas ditumis sampai harum
2. Masukkan Air sebanyak 1200 cc dan tempoyak
3. Masukkan ikan patin, dan masak terus sampai ikan patin menjadi empuk
4. Angkat dan Sajikan
5. Akhirnya masakan super lezat "Pindang Tempoyak Ikan Patin" siap disantap

Contoh CV atau Daftar Riwayat Hidup



DAFTAR RIWAYAT HIDUP / CURRICULUM VITAE
* Data Pribadi
===================================================
Nama Lengkap : Fauzan Hidayatullah Semendaya
Lahir : Baturaja, 09 April 1993
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Kewarganegaraan : Indonesia
Agama : Islam
Status : Belum Nikah
Identitas : KTP no. 1601140904930005
Alamat : Jl. Padat karya, Lrg. Harapan no. 275 Air Paoh, Baturaja, OKU, SUMSEL
No. Kontak : 085769039800
Email : fauzan.gokil@yahoo.com
* Pendidikan Formal
2000-2006 : SDN 08 OKU
2006-2009 : SMP Negeri 1 OKU
2009-2011 : SMA Negeri 4 OKU
2011 : Teknologi Industri Benih Institut Pertanian Bogor (belum selesai)
*Pendidikan Informal
*Riwayat Pekerjaan
===================================================
Demikian riwayat hidup ini saya buat dengan sebenarnya.
Bogor, 5 November 2012



(Fauzan Hidayatullah Semendaya)


Laju Transpirasi Tanaman

LAJU TRANSPIRASI

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Secara alamiah tumbuhan mengalami kehilangan air melalui penguapan. Proses kehilangan air pada tumbuhan ini disebut transpirasi. Pada transpirasi, hal yang penting adalah difusi uap air dari udara yang lembab di dalam daun ke udara kering di luar daun. Kehilangan air dari daun umumnya melibatkan kekuatan untuk menarik air ke dalam daun dari berkas pembuluh yaitu pergerakan air dari sistem pembuluh dari akar ke pucuk, dan bahkan dari tanah ke akar. Transpirasi penting bagi tumbuhan, karena berperan dalam hal membantu meningkatkan laju angkutan air dan garam-garam mineral, mengatur suhu tubuh dengan cara melepaskan kelebihan panas dari tubuh, dan mengatur turgor optimum di dalam sel. (Dardjat dan Arbayah,1990).
Agar transpirasi dapat berjalan maka stomata harus membuka. Apabila stomata membuka, maka akan ada penghubung antara rongga antar sel dengan atmosfir. Kalau tekanan uap air di atmosfir lebih rendah dari rongga antar sel, uap air dari rongga antar sel akan keluar ke atmosfi. Banyaknya stomata pada tanaman berbeda-beda antara spesies satu dengan spesies yang lain. Pada tanaman darat, umumnya stoma terdapat pada permukaan bawah daun dan  pada beberapa tanaman, stoma terdapat pada permukaan atas dan bawah daun.

Tujuan
            Adapun tujan dari percobaan ini adalah mengukur laju transpirasi pada dua jenis tanaman, membandingkan laju transpirasi pada dua jenis tumbuhan, mengamati jumlah stomata bagian atas dan bagian bawah daun, dan menghitung jkecepatan stomata pada daun.



TINJAUAN PUSTAKA

            Transpirasi  adalah proses pengeluaran air oleh tumbuhan dalam bentuk uap air ke atmosfer. Berdasarkan atas sarana yang digunakan untuk melaksanakan proses transpirasi dibedakan atas : transpirasi stomata, transpirasi kutikula dan transpirasi lentisel. Transpirasi penting bagi tumbuhan, karena berperan dalam hal membantu meningkatkan laju angkutan air dan garam-garam mineral, mengatur suhu tubuh dengan cara melepaskan kelebihan panas dari tubuh, dan mengatur turgor optimum di dalam sel. (Dardjat dan Arbayah,1990).
Proses transpirasi dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal. Faktor  internal antara lain seperti ukuran daun, tebal tipisnya daun, tebal lapisan lilin, jumlah rambut daun, jumlah, bentuk dan lokasi stomata (Dwidjoseputro, 1994:92), termasuk pula umur jaringan, keadaan fisiologis jaringan dan laju metabolisme. Faktor-faktor eksternal antara lain meliputi radiasi cahaya, suhu, kelembaban udara, angin dan kandungan air tanah (Dardjat dan Arbayah, 1996:64).
Stomata
               Stomata merupakan alat istimewa pada tumbuhan, yang merupakan modifikasi beberapa sel epidermis daun, baik epidermis permukaan atas maupun bawah daun. Stomata biasanya ditemukan pada bagian tumbuhan yang berhubungan dengan udara. Jumlah stomata beragam pada daun tumbuhan yang sama dan juga pada daerah daun yang sama (Estiti, 1995:68). Pada umunya stomata tumbuhan darat lebih banyak terdapat pada epidermis daun bagian bawah. Pada banyak jenis tumbuhan bahkan tidak ada  stomata sama sekali pada epidermis daun bagian atas (Lovelles, 1991:119). Suatu stoma terdiri atas lubang (porus) yang dikelilingi oleh 42 sel penutup, umumnya berbentuk ginjal dan mengandung kloroplas. Stomata sebagian besar tumbuhan membuka pada waktu siang hari dan menutup pada malam hari. Stomata akan membuka apabila turgor sel penutup tinggi dan apabila turgor sel penutup rendah maka stomata akan menutup (Siti Sutarmi, 1984:106). 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

            Ada pun hasil dari praktikum ini adalah

 Tabel 1. Laju Transpirasi
Tanaman
Waktu
0
30
60
90
120
vol awal
 Vol
vol awal
    Vol
vol awal
    vol
vol awal
    vol
vol awal
    vol
coleus
9.88
0
8.82
1.1
8.02
1.86
7.56
2.32
7.2
2.72
pucuk merah
9.96
0
9.38
0.58
8.5
1.34
7.86
2.1
7.46
2.5











Tabel 2. Luas Daun
Berat duplikasi daun
Luas daun
Coleus
Pucuk merah
Coleus
Pucuk merah
0.76
0.72
98.3
101.9


Pembahasan

Dari data diatas yang terpada di tabel satu  laju transpirasi pada tanaman coleus dan pucuk merah,  dapat  di lihat bahwa tanaman coleus dan pucuk merah  mengalami proses transpirasi yang ditandai dengan berkurangnya volume air. Pada transpirasi, hal yang penting adala difusi air dari udara yang lembab dari dalam daun ke udara yang kering diluar daun. Kehilangan air dari daun umumnya melibatkan kekuatan untuk menarik air kedalam daun dari berkas pembuluh yaitu pergerakan air dari sistem pembuluh dari akar ke pucuk  dan bahkan dari tanah ke akar.
 Selain itu cepat lambatnya proses transpirasi juga dipengaruhi oleh faktor luar dan faktor dalam . faktor dari dalam yaitu jumlah daun, luas daun dan jumlah stomata. Luas daun mempengaruhi pergerakan uap atau gas, pada percobaan  ini dapat dilihat pada tanaman coleus  yang luas daunnya 98.3 mengalami  pengurangan volume air sabanyak 2.72 ml selama 2 jam dibawah paparan sinar matahari, sedangnkan pucuk merah luas daunnya 101.9 mengalami pengurangan air sebanyak 2.5 ml selama 2 jam dibawah paparan sinar matahari. Tanaman pucuk merah yang  luas daunnya lebih besar dari colues mengalami trasnpirasi lebih rendah.

Tabel 3. Jumlah stomata
Jumlah stomata
 Pucuk merah
sampang dara
67
70

            Dari data diatas dapat dilihat bahwa jumlah stomata pada sampang dara lebih banyak dari pucuk merah. Jumlah stomata adalah salah satu faktor internal yang mempengaruhi laju transpirasi. Lubang stomata yang tidak bundar melainkan oval itu ada sangkut paut dengan intensitas pengeluaran air. Dan juga y letaknya yang satu sama lain di perantaian oleh suatu  jarak yang tertentu mempengaruhi intensitas penguapan. Jika lubang-lubang itu terlalu berdekatan maka penguapan dari lubang yang satu malah menghambat penguapan dari lubang yang berdekatan.



KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa laju transpirasi dipengaruhi oleh faktor luar dan faktor dalam, faktor dari dalam yaitu jumlah daun, luas daun dan jumlah stomata. Jumlah stomata mempengaruhi proses pengeluaran air dari tubuh tumbuhan. Sedangkan faktor dari luar yaitu cahaya, suhu dan udara. 

Saran

Dari percobaan yang telah kami lakukan, sebaiknya dalam mengerjakan praktikum ini menggunakan tanaman yang memiliki lebar daun dan jumlah stomata yang banyak agar kita dapat megetahui proses laju traspirsi dengan baik






UJI KEMASAKAN BUAH DAN PENGARUH ETILEN TERHADAP KEMASAKAN BUAH

Penulis : F. H. Semendaya, et. al. (2012) Secara umum, kita mengenal buah yang mentah dengan sifat hijau. Buah yang hijau disebabkan o...